Selasa, 05 April 2011

Benda-Benda Peninggalan Majapahit Itu Tak Terurus


 
Gentong kuno peninggalan Kerajaan Majapahit (Foto: Tritus Julan/Koran SI)
Gentong kuno peninggalan Kerajaan Majapahit (Foto: Tritus Julan/Koran SI)
TERKUAKNYA ribuan atau bahkan jutaan benda peninggalan Kerajaan Majapahit yang bisa dinikmati saat ini, bukan serta merta muncul begitu saja. Ada proses panjang sehingga benda-benda yang berumur ratusan tahun dan memiliki nilai sejarah tinggi itu bisa muncul dari dalam tanah. Maklum saja, sebagain besar peninggalan kerajaan terbesar nusantara itu terpendam akibat bencana alam.

Dalam catatan sejarah, puluhan kali letusan gunung menyebabkan bangunan-bangunan kuno Majapahit berserta isinya ditelan bumi. Tentu saja tak mudah untuk kembali menemukan benda bersejarah itu. Selain faktor tak terlihat, sejauh ini upaya dari pemerintah untuk melakukan penggalian yang menyeluruh juga belum dilakukan.

Praktis, selama ini temuan-temuan benda kuno hanya bisa diharapkan dari faktor ”kebetulan” warga sekitar. Mayoritas mata pencaharian warga sebagai perajin batu bata di wilayah kecamatan Trowulan dan sekitarnya, menjadi salah faktor cepatnya upaya penemuan situs. Meski dengan cara inipula, tak jarang benda-benda kuno itu yang rusak, atau bahkan raib.

Rupanya, upaya penyelamatan situs Majapahit tak semulus apa yang diharapkan para ahli sejarah, arkeolog, seniman atau budayawan yang menginginkan agar peninggalan Majapahit bisa diselamatkan seutuhnya. Sejauh ini, belum nampak keseriusan dari pemerintah untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang kerap menemukan benda-benda kuno itu.

Lihat saja sejumlah temuan warga di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko yang kini terkumpul di petilasan Tribuana Tungga Dewi. Di lokasi yang berada di tengah areal persawahan itu, terlihat beberapa benda bersejarah yang belum tersentuh upaya penyelamatan yang dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim di Trowulan.

Sedikitnya ada 15 buah umpak raksasa dan sekira 2.500 buah batu bata kuno bertengger di tempat itu. Sudah lama benda-benda itu ditemukan warga setempat. Itikad baik warga menyelamatkan benda peninggalan nenek moyang itu ternyata tidak berdanding lurus dengan upaya pemerintah.

”Bahkan warga sendiri yang mengangkut dari lokasi temuan ke sini. Semua sudah dilaporkan ke BP3,” ungkap Zainal Abidin, Sekretaris Desa Klinterejo ditemuui di Petilasan Tribuana Tungga Dewi.

Teranyar, warga menemukan sebuah gentong kuno berdiameter sekira 1 meter dengan tinggi sekira 80 sentimeter. Gentong yang terbuat dari tanah liat dengan ketebalan sekira 15 sentimeter itu ditemukan Kholil (47), warga setempat beberapa waktu lalu hasil ketidaksengajaan saat menggali tanah untuk kepentingan pembuatan batu bata. ”Sudah dilaporkan juga. Jangankan diberi penghargaan penemunya, dilihat saja (oleh BP3) tidak,” tandas Zainal.

Padahal, temuan terakhir itu merupakan benda dengan nilai sejarah yang tinggi. Setidaknya, itu bisa dilihat dari bentuk dan motif gentong yang tak ”biasa”. Benda yang tak biasa seperti ini, biasanya hanya dimiliki para petinggi kerajaan, atau bahkan raja. ”Sudah tak terhitung lagi temuan warga itu. Tapi sejauh ini tak ada penghargaan dari BP3. Minimal benda ini diambil dan diselamatkan sebagai mana mestinya,” paparnya.

Di Desa Klinterejo memang salah satu wilayah yang sarat dengan benda peninggalan Majapahit. Di sekitar petilasan Tribuana Tungga Dewi, ditemukan puluhan sumur dan tembok-tembok kuno. Warga sendiri telah menawarkan itikad baik dengan merelakan tanah seluas 2,5 hektare sawah mereka untuk digali guna menemukan benda bersejarah lainnya. Namun tawaran warga itu juga tak mendapat respons dari BP3 setempat. ”Atas saran BP3 juga, kami diminta mengajukan itu dengan kompensasi Rp10 juta. Tapi sampai detik ini belum ada tembusan,” tukasnya.

Sayangnya, Plt Kepala BP3 Jatim di Trowulan, Aris Soviani juga tak bisa dimintai keterangan soal ini. Saat dihubungi melalui telpeon selulernya, ia tak menjawab. Masih banyak PR penyelamatan situs yang sudah ada di depan mata namun belum dilakukan BP 3. Salah satunya adalah kolam raja temuan warga Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan yang juga hasil temuan warga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar